Pages

Tuesday, December 04, 2007

Human capital dan Pergabungan .

Saya sebenarnya terbaca berita ini dari surat khabar Indonesia yang bertarikh 1 Juli 2001 dan apa yang saya terbaca membuat saya rasa geli hati dengan buzz word modal insan dan mahu menghebahkan dalam blog saya dari mana datangnya.

JAKARTA – Jangan terburu terbuai oleh masuknya investor asing. Ternyata investor asing tidak selalu membawa kesejahteraan yang dirasakan bagi karyawannya.
”Take over ke investor asing tidak jaminan menjadi lebih baik,” demikian bunyi judul siaran pers yang diterima SH dari Pengurus Serikat Pekerja Minamas Gemilang (SPMG) Kalteng minggu lalu.
SPMG Kalteng ini melakukan aksi yang mereka namakan aksi ekskalasi di kantor Perwakilan PT Minamas Gemilang selama dua hari 18-19 Juni. Pangkalnya adalah ketidakpuasan terhadap manajemen
Kumpulan Guthrie Berhad (KGB).
”Jangankan kemakmuran, sedangkan harapan menjadi lebih sejahtera saja terasa sulit. Kondisi seperti ini belum pernah dialami karyawan saat manajemen sebelumnya (Salim, red) karena karyawan dihargai sebagai
asset human capital yang ber-value,” jelas Pengurus SPMG Kalteng dalam siaran pers itu.
Mereka mengaku bersama empat Serikat Pekerja (SP) yang juga di bawah KGB telah mengupayakan dialog sejak 15 Maret 2002. Waktu itu berawal dari tidak diakuinya keberadaan serikat oleh Manajemen KGB.
Setelah SP menekan dengan melakukan ekskalasi dengan menghentikan panen, baru Manajemen KGB mengakui lima DP yang berada di lingkungan Minamas Gemilang di Jakarta 19 April 2002. Pada saat itulah wakil kelima SP menyampaikan 20 butir aspirasi.
Ternyata jawaban manajemen tidak memuaskan. Apalagi kenaikan gaji tahun 2002 yang dijanjikan ternyata kurang dari 15 persen, justru turun bila dibandingkan tahun 2001 sebesar 20 persen. Sehingga bila dikurangi inflasi 12,5 persen mereka tidak merasakan tambahan yang berarti.
”Padahal dulu waktu masih krisis di bawah Grup Salim, kenaikan gaji minimal inflasi plus prestasi tidak pernah kurang dari 20 persen, itu pun masih ditambah bonus tahunan beberapa kali. Bahkan sekarang perusahaan yang di bawah Grup Salim berlipat-lipat kenaikan gajinya dibanding kami yang perusahaan awalnya sama,” papar salah seorang pengurus SP yang dihubungi SH, belum lama ini.
Belum lagi gaji pokok yang dipandang saat ini belum memenuhi standar hidup layak minimal untuk seorang staf. Ia mencontohkan, pendapatan seorang asisten lapangan seringkali di bawah pendapatan mandor.
”Maka sasaran SP adalah penetapan gaji pokok sebesar Rp 2.825.000 sesuai nilai perhitungan biaya hidup yang telah disampaikan melalui surat-surat SP terdahulu. Yang dipenuhi manajemen justru yang tidak signifikan, yaitu beberapa tunjangan seperti tunjangan kelahiran, sumbangan dukacita, tunjangan pemeliharaan motor,” imbuh pengurus SP itu.
Tapi, menurutnya, pihak manajemen bersikukuh jawaban atas 20 butir aspirasi itu sebagai keputusan final dan tidak akan dikoreksi kembali. Bahkan mereka menyatakan, kalau SP tidak puas dapat mengajukan permasalahan ini sebagai perselisihan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Perasaan diabaikan oleh manajemen inilah yang memicu SPMG Kalteng kembali melakukan aksi ekskalasi. Mereka juga menilai gaya dan budaya manajemen telah berubah.
Menurut mereka aksi eskalasi itu bukan ditujukan kepada manajemen di Banjarmasin, kendati mengambil tempat di sana. Mereka menegaskan, aksi tersebut ditujukan kepada Manajemen Minamas Gemilang di Jakarta dengan target Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
”Manajemen dalam menjawab semua tuntutan karyawan selalu dengan alasan kemampuan perusahaan terbatas. Jika benar, maka dapat dipastikan BPPN telah melakukan kesalahan yang sangat besar dalam memilih dan menyeleksi investor peserta tender penjualan aset Salim Group ini, karena ternyata pemenangnnya adalah mereka yang tidak mempunyai kekuatan finansial,” tandas pengurus SPMG Kalteng lagi.

Konglomerat Terpandang
Sayangnya Manajemen KGB dalam seminggu terakhir ketika dihubungi SH selalu berkelit. Bahkan ketika SH mendatangi kantor pusat Minamas Gemilang di Plaza Central pun hanya ditemui Henry Syah yang mengaku tidak berkompeten memberikan jawaban.
Surat yang ditujukan kepada Presiden Direktur Minamas Gemilang, Rusely Kusip pun tidak terjawab. Sekretarisnya mengatakan Ruseli Kusip tengah berada di luar kota. Sedang telepon selulernya ketika dihubungi SH tidak diangkat.

Sementara itu hasil riset SH menunjukkan KGB membeli 24 perusahaan kelapa sawit eks Salim Group senilai Rp 3,65 triliun dari BPPN akhir tahun 2000. Lalu KGB menerbitkan Islamic Bond (obligasi Islami) US$ 395 juta untuk mendanai akuisisi tersebut.
KGB memang merupakan konglomerat terkemuka di Asia Tenggara. Grup ini memiliki 55 estate di 10 dari 13 negara bagian Malaysia dengan 12 pabrik pengolahan minyak sawit dan empat pabrik karet.
Grup ini tercatat didirikan oleh Alexander Guthrie tahun 1821 sebagai perusahaan dagang Inggris pertama di Asia Tenggara. Guthrie memperkenalkan karet dan kelapa sawit di Malaysia tahun 1896 dan yang terakhir tahun 1924.
Tahun 1981 Malaysia berkepentingan membeli Guthrie Corporation Plc di Bursa Saham London. Lalu Kumpulan Guthrie dibentuk sebagai perusahaan publik di tahun 1987 dan tercatat di Bursa Saham Kuala Lumpur tahun 1989, yang saat itu menjadi penerbitan saham terbesar di Malaysia.
Dari gambaran ini jelas KGB bukan grup yang tidak memiliki kekuatan keuangan sebagaimana dituduhkan. Data SH juga menunjukkan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit ini akan meningkat signifikan dari Rp 565,32 miliar menjadi Rp 977,29 miliar. Sehingga diharapkan KGB menangguk keuntungan Rp 83,88 miliar. Padahal tahun 2001 Minamas Gemilang masih menderita rugi Rp 77,84 miliar.
Sebagai perbandingan, perkebunan kelapa sawit yang lain juga kinerjanya mengalami perbaikan. Misalnya, PT Astra Agro Lestari, Tbk yang tempo hari sempat akan dijual, kini malah bakal menjadi tulang punggung pendapatan Astra Internasional.
Lantas apa yang menjadi permasalahan? Rupa-rupanya gaya dan manajemen baru lebih berperan.
Ada semacam kebuntuan dialog, kalau tidak bisa dibilang penghindaran atau bahkan pengabaian pihak karyawan oleh manajemen yang baru. Pantas saja kalau karyawan apalagi SP mereka tidak dihargai.
Saking gemasnya, seorang karyawan yang dihubungi sampai-sampai dengan nada nelangsa menyatakan, seperti Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di tanah air sendiri. Maklum KGB merupakan konglomerat perkebunan yang berasal dari negeri jiran Malaysia. (SH/mega christina)



Petikan dari: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0207/01/sh06.html

Sebenarnya saya taklah paham sangat apa yang di tuliskan oleh berita di atas tetapi perkataan human capital bolehlah saya fahamkan sebagai MODAL INSAN yang selalu di banggakan oleh pemimpin kita sebagai modal saya setiap kali berhujah.Sedangkan ayat itu telah pun di gunakan mungkin seawal tahun 2001 oleh rakyat Indonesia.

Di atas adalah permintaan rakyat Indonesia yang bekerja dengan syarikat perladangan Malaysia agar gaji karyawan mereka di bayar sama atau selaras dengan pekerja di Malaysia.tetapi tuntutan mereka telah di tolak.

Dan di sini saya sebagai seorang rakyat Malaysia saya juga dengan rasa sedikit sedih mengucapkan "selamat pergi" kepada nama2 besar dalam syarikat perladangan kita selain Golden Hope iaitu Guthrie Sdn Bhd yang telah diambil alih oleh SIME DARBY BHD yang pada mula rundingannya adalah untuk gabungan di bawah Synergy Drive.

Untuk mendapat lebih maklumat sila ke blog A scribe of Kadir Jasin yang telah mengupas dengan lebih dalam dan terperinci mengenai pergabungan tersebut. http://kadirjasin.blogspot.com/2007/12/synergy-drive-merger-winners-and-likely.html





No comments: