Pages

Saturday, February 20, 2010

Kisah 4 Istri - (petikan)

editor : yoedha pamungkas @ 2:07 am | Kisah Dari Sahabat... | -

Namaku Fulan Bin Fulan dan Inilah kisah ku, aku seorang saudagar kaya beristri 4, aku begitu mencintai istri ku yang ke-4 yang paling muda dan paling cantik, kuberikan padanya harta dan kesenangan, apapun yang dia minta akan kupenuhi karena dialah yang paling cantik diantara ke empat istriku.

Aku juga begitu mencintai istri-ku yang ke tiga, Dia yang membuatku merasa begitu bangga memiliki nya. Bangga memperkenalkan-nya kepada semua kolegaku, dengan ke anggunan dan pesona yang dimiliki istri ketiga ku aku merasa begitu terhormat karena mampu memilikinya. namun sejujurnya aku juga begitu khawatir kalau kalau istri ke tiga ku ini akan lari dengan pria lain.

Isti ke dua ku begitu penyabar dan penuh pengertian. Dia tempat curhatku yang paling setia, dia mampu menangkap setiap rona kesedihan ataupun kebahagiaan dari mimik wajahku, dari bahasa tubuhku bahkan hanya dari tatapan mataku. Dia benar benar teman hidup yang mampu menampung segala gundah hatiku.

Dan kusadari satu hal bahwa aku tak sempat lagi meluangkan waktu bersama istri pertamaku yang telah menjadi istri ku seutuhnya, dialah yang menjadi permaisuri di rumah tanggaku, dia yang selama ini menjagaku, menemaniku dan senantiasaa menghawatirkan ku selalu meskipun aku kadang tak peduli. Dialah yang kadang terlelap di atas kursi menelungkupkan wajah di sisi tempat tidurku demi menemaniku manakala aku jatuh sakit.

Dan ketika sakitku semakin parah aku baru menyadari satu hal bahwa aku telah begitu lama menyia nyiakannya, dia begitu kusut kini, kurus dan tak cantik lagi sebagaimana dulu ketika aku melamarnya, dia bahkan terhuyung ketika berusaha memapahkau ke kamar mandi karena tubuhnya yang semakin lemah.

Beberapa kali aku mendapatinya menangis tersedu di atas sajadah di samping tempat tidurku ketika aku terbangun ditengah malam dari tidur sakitku, dia menghiba kepada Yang Maha Kuasa demi aku, Dialah cerminan istri sebenarnya.

Tahukah kamu bahwa istri pertamaku telah pergi meninggalkanku sejak hari pertama aku jatuh sakit, istri ke tigaku sudah bulat untuk melanjutkan hidup tanpaku dan istri ke dua ku pergi dengan berurai air mata bahwa dia tak sanggup melihatku menderita.

Tinggallah kini hanya istri pertamaku yang setia mendampingiku, dia sudah bersumpah akan menemaniku sampai kapan pun. Walau aku tak tahu akankah tubuh renta-nya yang semakin lemah akan mampu senantiasa menjaga dan mendampingiku.

Tahukah kau sobat siapa istri istriku itu ?

Istri ke empat ku itu adalah tubuhku, ragaku. Kau tahu, raga ini yang telah begitu lama menggerogoti begitu banyak perhatianku. Dana, waktu dan tenaga kuhabiskan demi menjaga raga ini agar senantiasa tampak menarik dan mempesona.

Istri ke tiga ku itu adalah status sosial dan jenjang ekonomiku, dengan itu aku mampu menjaga hidupku dalam lingkungan berstrata sosial tinggi, dengan itu aku mampu menunjukkan eksistensi dan kelasku dimata siapapun. Dengan itu aku membanggakan diri sebagai figur yang layak untuk di panuti dan dihormati.

Istri ke dua ku itu adalah kerabat dan para sahabatku, mereka lah yang selama ini menjadi tempat curahan hatiku dikala gundah, merekalah yang senantiasa mengulurkan tangan pada saat ku jatuh. Merekalah yang menjadi benteng bagiku dari siapapun yang mencoba mengusik ku.

Dan Istri pertamaku adalah jiwa dan amal ibadahku. Sesungguhnya aku telah begitu lalai menjaga dan merawatnya untuk suatu saat mampu menjadi pendamping dan pelindung setia ku sepanjang waktu, bahkan ketika waktu berahir.

Kini kusadari istri ke empat dan ke tiga ku tak sudi menemaniku walau hanya mengantarku ke liang lahat. Istri ke dua ku hanya mampu membuatkan nisan bertulis namaku, mereka hanya mampu menuliskan namaku di seribu batu nisan kenangan dalam hati dan kisah tutur berbumbu manis dikilasan memori. Hanya isti pertamaku saja lah yang benar benar bersedia menemaniku melawati batasan ruang dan waktu namun dia sudah tak lagi mampu untuk itu, semua karena kelalaianku.

Itulah sobat sepenggal kisahku. Semoga kamu mampu mengambil pelajaran dari kisah ini. Perlakukanlah jiwa dan amal ibadahmu dengan bijak sebelum semuanya terlambat. Sebelum waktu ahirnya berhenti

No comments: